Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Naik-Naik ke Air Terjun Wera di Kabupaten Sigi

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi…tinggi sekali. Kiri kanan kulihat saja banyak pohon cemara a-a..”

Teman-teman tentu masih ingat dengan potongan lirik lagu itu bukan? Saya menyenandungkannya sepanjang perjalanan di mana pemandangan di depan mata ada gunung dengan nuansa hijau yang menenangkan. Dari rumah, suami hanya berpesan agar saya memakai sandal yang mudah dilepas dan nyaman. Ketika saya sadar, perjalanan kami telah keluar dari Kota Palu, saya pun makin penasaran akan dibawa ke mana.

Air Terjun Wera Sigi
Jalan menuju jembatan yang merupakan titik awal perjalanan ke Air Terjun Wera. | Dok. Pribadi

“Ke air terjun itu”, katanya sambil menunjuk ke arah air terjun yang terlihat masih begitu jauh. Bayangan saya selama sisa perjalanan, air terjun tujuan kami ini layaknya air terjun Tawangmangu di mana aksesnya mudah dan tetap bisa ‘jalan-jalan cantik’ atau ‘foto-foto cantik ala model’ 😀

Air Terjun Wera Sigi
Foto ini diambil di atas jembatan yang merupakan titik awal menuju air terjun. | Dok. Pribadi

Perjalanan sekitar 30 menit dari Kota Palu berakhir, kami parkir dan memulai perjalanan menuju air terjun yang bernama Air Terjun Wera. Tak perlu waktu lama, akhirnya saya buru-buru membuang segala ekspektasi tadi karena saat memasuki wilayah Air Terjun Wera ini masih sangat alami. Dari parkiran masuk ke area awal melalui jalan kecil dan turun melalui tangga alami dari akar pohon yang dibuat undak-undakan. Melewati jembatan, sungguh pemandangannya sangat bagus. Ada jalan paving dari batu alam yang dibuat rapi memudahkan untuk berjalan. Sepanjang jalan, ada sungai berbatu di sisi kiri dengan deru suaranya yang riuh. Sungai ini membelah hutan yang akan jadi teman perjalanan menuju Air Terjun Wera.

Air Terjun Wera Sigi
Terdapat pohon yang berukuran besar dan suasana yang sangat alami. | Dok. Pribadi.
Air Terjun Wera Sigi
Jalannya ramah 😀 | Dok. Pribadi.

Saya berjalan sebentar dengan jalan paving halus dan di bagian yang mulai menanjak, di sisi kiri terdapat semacam pagar untuk pegangan. Saya pikir, oke, termasuk ramah kalau aksesnya seperti ini, batin saya waktu. Hingga akhirnya, saya tiba di ujung di mana ada batu besar dan di baliknya adalah jalan terjal yang harus ditempuh untuk sampai Air Terjun Wera 😀

Air Terjun Wera Sigi
Mulai menggunakan mode tracking-hiking 😀 | Dok. Pribadi
Air Terjun Wera Sigi
Mulai mode gendong juga 😀 | Dok. Pribadi

Saya harus melepas sandal karena harus masuk sungai untuk menyebrang, lalu naik, naik, naik lagi, terus sambil tetap waspada dan memilah mana pijakan yang kuat untuk saya pijak selanjutnya, memastikan pijakan berikutnya aman. Perjalanan di area yang masih sangat alami ini ternyata lebih panjang daripada jalan paving sebelumnya 😀 Jadilah saya tracking-hiking untuk mencapai air terjun. Kegiatan tracking-hiking di bagian ini menantang wisatan  karena terdapat bebatuan terjal dan membuat beberapa titik jalur menyempit.

Air Terjun Wera Sigi
Momen menyeberangi sungai. | Dok. Pribadi

Selama perjalanan saya sudah tidak berpikir untuk bisa foto-foto cantik ala model tapi lebih kepada gimana nanti turunnya :-D, semoga pemandangan di depan sana sepadan dengan perjalanannya. Meski harus tracking-hiking, naik-naik, ternyata anak kami yang usia 3 tahun jauh lebih menikmatinya meski sekali dua kali dia minta gendong. Selama perjalanan naik ini kami hanya dua kali berpapasan dengan kelompok pemuda-pemudi yang baru saja turun dari air terjun.

Air Terjun Wera Sigi
Tracking-Hiking ke Air Terjun Wera ini semakin asik dengan kerja sama gantian gendong seperti ini 😀 | Dok. Pribadi

Sampai Puncak, Melihat Pesona Air Terjun Wera

Sungguh, segala peluh terbayar saat melihat air terjun yang indah, yang dikelilingi pohon-pohon dan tumbuhan-tumbuhan lain dengan warna hijau menawan. Air terjun yang terletak di Desa Balumpewa, Dolo Barat, Kabupaten Sigi ini dapat dinikmati keindahannya dari dua tempat atau dua sudut pandang, bagian atas dan bagian bawah air terjun yang lebih landai. Saat itu, saya menikmatinya di bagian atas, sudah tak sanggup lagi jalan ke bawah 😀

Air Terjun Wera Sigi
Air Terjun Wera dari sisi atas. | Dok. Pribadi.

Bagi pengunjung, selain menikmati keindahan alam dan setelah uji adrenalin, kurang rasanya jika tak berfoto ria atau setidaknya mengabadikan momen indah Air Terjun Wera. Selain keindahan air terjun, kawasan yang akhirnya saya tahu bahwa ini adalah kawasan hutan lindung makanya keadaannya sangat alami termasuk aksesnya. Suara-suara burung dan serangga terdengar jelas, karena itu memang setiap sudutnya harus diabadikan. Apalagi Air Terjun Wera ini berada di kawasan hutan lindung  di mana pepohonan tua berukuran besar yang bagi saya sendiri jarang saya jumpai.

Fasilitas di Kawasan Air Terjun Wera

Saat saya ke sana, sekitar awal Maret 2021, ternyata sudah dua tahun (dan baru saya tulis di tahun 2023, sungguh terlalu :-D), tidak ada fasilitas berupa toilet atau kamar ganti. Tidak ada musola atau warung makan. Saat itu tarif parkirnya pun sangat murah, Rp 5.000,00 untuk motor dan Rp 10.000 untuk mobil. Masih sangat terjangkau kan? Di area parkir ini ada dua kedai kecil yang dikelola perorangan.

Hal-Hal yang Harus Diperhatikan

Waktu yang disarankan saat ke Air Terjun Wera adalah saat musim kemarau karena saat musim penghujan dikhawatirkan debit air meningkat mengingat untuk sampai ke air terjun harus menyebrangi sungai secara langsung (masuk ke dalam sungai). Memakai alas kaki yang nyaman dan simpel yang mudah dilepas jika tidak nyaman menggunakan alas kaki basah. Membawa makanan dan minuman secukupnya agar perjalanan tracking-hiking lebih ringan. Selain itu, harus tetap memperhatikan keamanan diri dan bawaan seperti kamera atau telepon genggam. Tak lupa yang juga sangat penting, jika pergi ke Air Terjun Wera bersama anak usia di bawah 5 tahun harus diawasi dengan maksimal dan sebaik mungkin. Tak hanya waspada kepada diri sendiri dan barang bawaan, tentu saja kita harus tetap menjaga kebersihan, sisa bungkus jajan harus kita bawa turun dan buang di tempat sampah karena alam yang cantik ini harus benar-benar kita jaga. Setelah puas treking di Air Terjun Wera, Teman-Teman bisa langsung makan siang sembari istirahat di La Toratima, Sigi.

Gimana teman-teman, siap uji adrenalin di Air Terjun Wera? 🙂

Baca juga: Keindahan Air Terjun Saluopa di Tentena, Poso.

Jajanan Khas yang Harus Dicicipi Saat Berkunjung ke Kota Palu

Jajanan Khas Kota Palu

Jajanan Khas Kota Palu

 

Jonathan Safran Foer pernah menuliskan ‘food is culture, habit ,craving and identity’ dan di saat saya membacanya saya pun membenarkan. Kuliner di suatu daerah atau kota akan menjadi sebuah identitas sekaligus simbol budaya. Saat awal-awal tinggal di Kota Palu, hal yang saya cari pertama kali adalah soal makanannya beserta jajanannya. Rumah belum menjadi ‘rumah’ jika belum terisi dengan makanan. Saya menjadikan sebuah kota yang baru menjadi ‘rumah’ ya lewat makanannya itu 😀

Kota Palu
Pasha Ungu saat menjabat wakil walikota Palu. | Dok. Pribadi.

 

Seperti kota-kota lain, saya percaya pasti akan memiliki kekayaan kuliner, entah dari makanannya, kudapannya hingga minumannya. Termasuk juga Kota Palu, di awal 2021 yang terasa begitu asing kecuali spanduk yang terpasang di kantor walikota Palu, gambar Pasha Ungu pakai seragam korpri waktu itu, hehe…
Saya sedikit demi sedikit mencari tahu tentang kota ini dari jajanannya. Menurut saya, ada beberapa jajanan yang harus dicicipi jika sedang di Kota Palu, terlebih jika baru pertama kali ke Kota Palu.

 

Lalampa

Jajanan Khas Kota Palu Lalampa
Lokasi di Jalan Veteran, dekat toko grosir telur dan showroom Edison. | Dok. Pribadi.

 

Jajanan ini kalau di Jawa seperti kue lemper, bedanya adalah lalampa ini berisi ikan yang dimasak pedas. Biasanya ikan yang digunakan jenis cakalang, tuna atau tongkol. Lalu dibungkus dengan daun pisang. Setelah sempurna bungkusannya, dilumuri dengan minyak sayur atau minyak kelapa lanjut dibakar. Lalampa ini dinikmati selagi hangat. Kalau saya, beli di mana pun sama enaknya 😀 tapi memang dari sekian tempat yang jual lalampa, paling enak lalampa di pojok pertigaan Toboli, ke arah Parigi Moutong setelah melewati Kebun Kopi. Nah, dari segi ukuran, kalau lemper ukurannya bisa padat berisi sedangkan lalampa ukurannya kecil (langsing) dan saya makan satu rasanya kurang. 😀

Jajanan Khas Kota Palu Lalampa
Lalampa Toboli. | Dok. Pribadi

 

Panada

Kue ini, menurut saya yang nggak pintar dalam hal masak dan baking, adonannya mirip seperti donat tapi nggak bolong. Bentuknya setengah lingkaran dengan bagian pinggir diuntir-untir dan bagian dalam ada isiannya. Nah, isiannya ini juga bervariasi. Ada yang isian berupa ikan, lobak dan so’on. Ada juga yang isiannya ikan dan bihun. Rasa panada ini manis, gurih, dan pedas. Jika isiannya tidak dimasak pedas ya hanya manis dan gurih. Favorit saya sekaligus jarak mendapatkannya dekat adalah panada di A.M Kopi. ^^

Panada A.M Kopi
Panada yang saya beli di A.M Kopi. | Dok. Pribadi.

Baroncong

Jajanan Khas Kota Palu Baroncong
Proses pembuatan Baroncong. Berada di perempatan Jalan Garuda-Jalan Maleo. | Dok. Pribadi.

 

Kue satu ini paling enak dinikmati saat pagi sebagai teman minum teh atau minum kopi. Sekilas, baroncong ini mirip pukis karena memang dimasak dicetakan kue pukis tapi dari segi adonannya berbeda. Baroncong ini rasanya manis legit tapi nggak bikin eneg. Di dalamnya terdapat serutan kelapa muda. Ah, kue ini ngangenin!

Jajanan Khas Kota Palu Baroncong
Kue Baroncong | Dok. Pribadi.

Putu

Jangan dibayangkan kue ini rasanya manis seperti yang saya lakukan saat pertama kali di Kota Palu. Saya mengikuti feed obrolah netizen tentang kue ini beserta rekomendasi tempat yang mereka sebutkan. Salah satu netizen menuliskan sebuah tempat yang ternyata dekat rumah. Tanpa pikir panjang, keesokan hari, pagi-pagi sekali saya bergegas membeli dengan bayangan kue putu yang gurih manis. 😀

Jajanan Khas Kota Palu Putu
Putu Kota Palu. | Dok. Pribadi

 

Ternyata kue ini berbeda dengan putu yang biasa saya makan. Putu di Kota Palu ini dari ketan dicampur kelapa muda dan dinikmati dengan duo. Ap aitu duo? Nah, duo ini enak banget, semacam ikan kecil-kecil atau seperti ebi segar dimasak dengan tomat dan cabai (tapi bukan seperti sambal tomat). Enak lagi kalau makan ini saat Minggu pagi di Kampung Nelayan sambil menikmati ombak Teluk Palu dengan pemandangan Gunung Nokilalaki.

 

Jepa’

Jajanan Khas Kota Palu Jepa'
Proses pembuatan jepa’ dengan cara ditindih bergantian dengan tembikar panas. Di foto ini ada dua tembikar yang dipakai untuk proses pembuatan jepa’. | Dok. Pribadi.

 

Dari tampilannya saat pertama kali melihat saya langsung suka padahal belum mencoba, baru lihat proses masaknya 😀 Jepa’ ini terbuat dari tepung sagu dimasak di atas tembikar tanpa minyak. Biasanya, isi jepa’ adalah ikan suwir yang dimasak pedas atau taburan gula merah. Jajanan ini pun mudah didapatkan. Spot favorit saya menikmati jepa’ ini di anjungan pantai Talise. Makan jepa’ sore-sore sambil nunggu sunset dengan deburan ombak Teluk Palu dan pemandangan Gunung Nokilalaki. Bisa juga menikmati jepa’ di kafe jepa’ di tengah kota. Di kafe itu bisa menikmati juga surabi dan nasi kuning khas Kota Palu.

Jajanan Khas Kota Palu
Menikmati jepa’ di Pantai Talise, Teluk Palu. | Dok. Pribadi

 

Selain lima jajanan di atas, masih ada jajanan-jajanan baru yang membuat saya jatuh cinta dengan Kota Palu. Tulisan ini sepertinya akan lanjutan bagian keduanya, sih. 😀 Dari kelima jajanan ini, adakah yang membuat teman-teman penasaran tertarik untuk mencoba? Jajanan apa?
Yuk, berbagi di kolom komentar 🙂

 

Baca juga: Tempat Ngopi di Sekitar Kantor Walikota Palu.

Rekomendasi Tempat Ngopi di Sekitar Kantor Walikota Palu

 

Sejak resmi menikah dan berumah tangga, saya dan suami termasuk pasangan nomaden alias rajin pindah dari satu propinsi ke propinsi lain di Indonesia. Biasanya setiap 2 atau 3 tahun, saya harus siap melow saat berkemas barang-barang yang harus dikirim ke tempat tinggal baru sesaat suami menerima SK mutasi.

Ya mudah nggak mudah, sedih nggak sedih tiap pindahan. Tetap ada senangnya kok. Sedihnya ya pasti saat terakhir menjelang pindah dan adaptasi pertama saat tiba di kota yang baru. Nobody is fully happy all the time, but similarly, nobody is fully unhappy all the time, either. Iya kan? 🙂

Di tempat yang baru, salah satu kegiatan menyenangkan selain kuliner, bagi saya adalah menemukan tempat kopi di kota yang baru saja saya jajaki. Saya cenderung tertarik pada kedai atau tempat ngopi ‘lokal’. Maksud saya, kedai kopi yang dikelola oleh perorangan setempat atau kedai kopi yang bukan brand nasional apalagi internasional gitu deh…

Termasuk tempat ngopi dengan suasana baru yang saya temui di Kota Palu khususnya yang dekat dengan tempat tinggal saya. Saat berada di Kota Palu, saya tinggal di sebuah komplek perumahan yang lokasinya dekat dengan Kantor Walikota Palu di mana jaraknya kurang dari 750 meter.

Nah, ada lima rekomendasi tempat ngopi di sekitar Kantor Walikota Palu yang menjadi langganan saya selama dua tahun tinggal di sana.

 

Ruang Koffie

Ruang Koffie ini berada tepat di belakang gedung Kantor Walikota Palu, tepatnya di Jalan Balai Kota Timur no.1. Di kedai ini saya suka dengan menu kopi Americano. Cita rasanya ada rasa asam aroma lemon padahal kata baristanya tanpa ada tambahan lemon ditambah pahitnya itu kuat. Saya menyukai perpaduan asam dan pahitnya. Ruang Koffie ini memiliki dua area, outdoor dan indoor. Kedai yang terletak satu deret dengan Kantor Pemadam Kebakaran Kota Palu ini juga menyediakan minuman non kopi serta aneka kudapan. Cocok untuk catch up dengan teman atau kerja dari mana saja.

 

Ruang Koffie di Jalan Balaikota Timur, Kota Palu.

 

M Corner Street

Geser beberapa meter, ada tempat ngopi asik bernama M Corner Street. Kedai ini ada pertengahan 2021, seingat saya…hehe. Kedai yang terletak di pojok perempatan Jalan Nuri dan Jalan Cendrawasih ini memiliki konsep simple garden café. Suami lebih sering beli di sini varian Americano atau Latte. Saat malam, kedai ini terlihat paling cemerlang karena lighting-nya bagus. Simpel tapi romantic gitu. M Corner Street juga menyediakan menu non kopi dan camilan. Jadi cocok untuk ngobrol atau diskusi bareng teman atau pasangan.

 

Suasana M Corner Street saat malam.

TeBe (Tempat Berkumpul)

Geser lagi, tepatnya agak naik lagi, tempat ngopi yang tak kalah nyaman yaitu TeBe atau Tempat Berkumpul. Seperti Namanya, TeBe ini juga termasuk tempat ngopi yang ramai pengunjung. Rata-rata ya muda-mudi yang berkumpul di sana sambil menikmati kopi. Di kedai yang terletak di Jalan Swadaya ini saya juga dengan varian kopi gula arennya. Pahit, manis, gurihnya dapat. Selain itu, saya juga sangat suka menu nasi paru khas TeBe, nasi hangat dipadukan dengan telur orak-arik dan tentu saja paru yang dimasak pedas huhah gitu 😀 Nah, selain menu nasi paru, TeBe juga satu lokasi dengan kedai Sate Taichan dan ada pula toko pakaian anak yang buka saat siang. Saat saya tiba di Kota Palu, TeBe belum ada, mereka buka di pertengahan tahun 2021, seingat saya ya…

 

TeBe [Tempat Berkumpul]

A.M Kopi

This is it! Bisa dibilang, A.M Kopi ini adalah kedai pertama kali yang saya temukan dan saya kunjungi yang akhirnya jadi tujuan untuk kerja jarak jauh juga saat malam. Terletak di Jalan Swadaya no. 25 di mana masih dekat dengan Kantor Walikota Palu, yang penting lagi, ini juga dekat sekali dari rumah kurang lebih 250 meter. A.M Kopi ini kedai yang menurut saya super simpel tapi menunya nggak bisa dibilang biasa-biasa aja.

 

A.M Kopi di Jalan Swadaya. Ini A.M Kopi tampak depan.

 

Menu kopi favorit saya di A.M Kopi adalah kopi rantau dan kopi lemonade. Kopi rantau ini semacam kopi susu tapi beda, pun di sana menu kopi susu juga ditulis dengan jelas. Kopi rantau ini ngangenin bagi saya, cita rasanya entah berbeda, gurih manis di top note-nya lalu di ujung ada rasa pahit gurih. Di aplikasi go-food pun kopi rantau juga jadi menu favorit. Selain menu varian kopi juga ada yang non kopi, misal varian teh dan coklat. Tak lupa juga, tersedia camilan berupa brownies, bakpao, dan camilan kesukaan saya yaitu panada. Saya gambarkan panada itu seperti donat lalu ada isian berupa ikan yang dimasak bumbu pedas, kadang dicampur soon dikit atau semacam lobak.

 

A.M Kopi
Penampakan penuh A.M Kopi dan sekarang pohon yang terlihat paling depan itu sudah besar 😀

 

Kalau kurang kenyang dengan camilan yang ada di A.M Kopi, pengunjung bisa langsung merapat ke BORS Café yang letaknya bergandengan, satu lokasi. Menunya berupa hamburger dan menu aneka nasi. Favorit saya? Beef Burger dan Beef Teriyaki. Isian daging untuk burger mereka memasaknya mendadak, jadi bukan olahan daging frozen gitu. Jadi memang nunggu sedikit lebih lama tapi ya lama-lama amat sih.

 

Kopitaro

Lanjuuuttt, yuk mari, geser sedikit lagi dari A.M Kopi ke Kopitaro. Lokasi Kopitaro ini juga berada di Jalan Swadaya, masih dekat dengan Kantor Walikota Palu sekaligus dekat tempat tinggal saya. Kopitaro ini seingat saya saat ngobrol dengan pemiliknya sudah buka cukup lama, tetapi lokasi di Jalan Swadaya ini baru di awal tahun 2022 adalah tempat baru. Jadi saya sempat menikmati suasana grand opening Kopitaro saat itu.

 

Kopitaro tampak bagian indoor.

 

Hal yang spesial di kedai ini adalah kopinya diracik secara manual dan saat proses itu pengunjung bisa menyaksikan langsung sambil membuka obrolan dengan barista yang juga pemiliknya langsung atau dengan barista yang lain. Favorit saya di kedai ini adalah Caramel Latte dengan less sugar. Kopitaro menyediakan ruang indoor dan outdoor dengan akses wifi yang cepat. Jadi cocok untuk kerja jarak jauh juga. Saya pun sudah pernah menulis cerita tentang Kopitaro.

Kelima tempat ngopi ini berada tidak jauh dari Bandara Mutiara Sis Al Jufri, Kota Palu. Jadi ketika teman-teman sedang transit di Kota Palu bisa mampir di tempat ngopi di atas. Kira-kira mana yang membuat kalian tertarik untuk mengunjunginya? 🙂

 

Baca juga: Jajanan Khas Kota Palu yang Wajib Dicicipi.

Akun Instagram yang Wajib Dijadikan Panduan Saat Pertama Kali di Kota Palu

 

Saat pertama kali tinggal di Kota Palu, tepatnya wilayah Palu Selatan, saya benar-benar ‘buta’ tentang kota ini. Ya, ini adalah pengalaman pertama tinggal di Pulau Sulawesi. Tentu saja ada yang berbeda terutama cita rasa makanannya. Jangankan di Sulawesi, saat berpindah-pindah di dalam Pulau Jawa saja juga banyak sekali ‘warna’ yang saya jumpai.

Dalam hal adaptasi dan memperoleh informasi, saat ini, menurut saya sangat terbantu dengan adanya teknologi. Ada gawai yang sekarang sudah pintar didukung dengan layanan dari berbagai provider dengan akses internet yang cepat membuat segala macam informasi mudah didapat. Termasuk saat saya membutuhkan media untuk berkenalan dengan Kota Palu ini.

Hal yang paling mudah tentu melalui google kan ya? Tinggal ketik keyword apa yang ingin kit acari lalu taraaaa, muncullah berbagai alternatif informasi mana yang ingin kita telusuri. Saya juga melakukan hal itu. Dari pencarian itu, saya bertemu dengan akun-akun Instagram yang akhirnya menjadi ‘panduan’ dan ‘petunjuk’ hidup selama tinggal di Kota Palu.

Soal Palu

Akun ini menyediakan informasi tentang banyak hal di Kota Palu. Di akun ini bisa saya dapat informasi berbagai event yang sedang atau akan digelar di Kota Palu. Termasuk juga kabar-kabar baik seputar Palu juga update di sana bahkan interaksi antar pengguna di kolom komentar pun sungguh bermanfaat. Saya pernah menemukan jajan aneka cilok dari interaksi komentar para pengguna akun Instagram. Tidak hanya itu, saya juga dapat banyak informasi tempat wisata berupa pantai-pantai cantik detail dengan tempat bahkan waktu yang cocok untuk mengunjunginya. Di akun ini juga ada info seputar kuliner di Kota Palu mulai dari kuliner fancy hingga kali lima. Tempat makan dengan view pantai dengan ombak yang tenang di Kota Palu, seperti North Abel. Semua terpampang jelas di akun ini, hehehe…

Info Palu

Akun ini menurut saya juga hampir sama dengan akun Soal Palu. Kedua akun ini saling melengkapi bagi saya yang seorang pengguna sekaligus pencari informasi. Di akun ini juga menyediakan berbagai informasi seputar Kota Palu, event, kuliner, bahkan tempat ciamik untuk main. Dari akun ini saya dapat informasi tentang gerai-gerai vaksin covid 19, kapan pelayanannya dan apa saja syarat-syarat yang harus dipenuhi. Di akun ini juga saya bertemu dengan akun Torufarm di mana memudahkan saya untuk belanja dari rumah. Tidak hanya itu, info harga cabai atau sayur di Pasar Lasoani, pasar terdekat dari rumah, juga saya dapat dari akun Info Palu ini.

Menurut saya dua akun ini adalah akun induk yang akan membuka dan mengarahkan saya pada akun-akun lain yang memberi informasi secara lebih detail lagi. Misal saat ada event Danau Poso, saya juga tahu dari dua akun ini. Saya pun bisa menikmati kuliner dan menemukan masakan-masakan dengan cita rasa berbeda saat menemukan akun Keliling Palu yang juga muncul di akun Info Palu dan Soal Palu. Saya akhirnya tahu di mana gerai es teh Poci dan es teh Nusantara juga dari keliling di Instagram.

Hal-hal kecil yang saya temukan dari akun-akun ini tentu membuat saya senang sekaligus memudahkan saya dalam hal adaptasi dan tentu saja mencintai Kota Palu ini. Tentu saja harus cinta agar selama tinggal dan akhirnya pindah lagi, saya memiliki kenangan manis di sini. ^^

Kegiatan yang Bisa Dilakukan di Danau Tambing Poso Sulawesi Tengah

 

Hampir dua tahun tinggal di Sulawesi Tengah, tepatnya di Kota Palu tentu secara emosional saya merasa ada ikatan yang tidak main-main. Terlebih ini pengalaman pertama kali tinggal di pulau Sulawesi dan hal yang membuat berkesan juga adalah saat saya pindah ke Kota Palu, kota ini masih dalam tahap recovery pasca bencana gempa, tsunami, dan likuifaksi. Antara mudah dan tidak mudah. Ternyata oh ternyata, Kota Palu menawarkan banyak keindahan setelah benar-benar tinggal di Bumi Kaktus ini.

Suasana perjalanan menuju Danau Tambing

 

Bagaimana tidak, saya menyebut kota ini sebagai kota kombo di mana perbukitan yang berderet-deret dan juga deretan pantai yang indah. Kedua saling berhadapan, kalau couple sih udah saling tatap gitu posisinya. Betapa gampang jadi pemburu sunset di pantai, pun tak kalah mudah menjadi pemburu sunrise di bukit atau pegunungan. Tanpa keluar kota saya sudah mendapatkan paket kombo bahagia itu. Itu di dalam kota ya, bagi saya lebih spesial lagi alam Sulawesi Tengah ini jika mau dan ada kesempatan ke luar Kota Palu.

 

Menuju akhir tahun 2021 menurut foto di galeri smartphone saya 😀 meski belum akhir tahun banget sih, suami mengajak saya dan Bilgi pergi ke Danau Tambing, Poso. Itu destinasi pertama saya di Poso. Jaraknya cukup dekat dari Kota Palu, seingat saya hanya sekitar 2 jam dengan mobil. Kawasan Danau Tambing ini berbatasan dengan Kabupaten Sigi. Jadi kalau dari Kawasan Danau Tambing ke Danau Poso, Poso Kota atau Tentena masih sangat jauh, pun beda rute. Perjalanan ke Danau Tambing melalui Sigi, sedangkan ke Poso Kota atau Danau Poso melewati Kebun Kopi, Parigi Moutong bahkan melewati depan Pondok Pesantren Modern Gontor 6.

 

Pemandangan dari sisi yang lain setelah tracking

 

Danau Tambing dalam Bahasa Pamona yaitu Rano Kalimpaa atau Rano Tambing ini berada di Desa Sedoa, Lore Utara. Danau yang masih bagian dari wilayah Taman Nasional Lore Lindu. Danau yang terletak pada ketinggian sekitar 1.700 meter dari permukaan laut ini  selalu ramai dikunjungi warga dari berbagai usia. Selain itu, udara di Danau Tambing juga sangat sejuk cenderung dingin. Saat saya berkunjung masih bisa dijumpai berbagai macam jenis burung yang dirawat secara bebas. Pohon-pohon dari berbagai varietas bisa dijumpai bahkan ada yang berukuran sangat besar dengan usia puluhan bahkan ratusan tahun. Bagi saya yang seorang pendatang baru, Danau Tambing tentu menjadi tempat baru yang juga berkesan karena di kawasan sekitar danau memang terawat dan bersih. Saya melihat para pengunjung Danau Tambing ini tertib juga untuk urusan sampah yang mereka bawa. Gimana nggak jatuh cinta kan ya?

 

Gambaran tentang kenyamanan di Danau Tambing ini juga mendukung bagi para pengunjung untuk beraktifitas. Apa itu?

 

Berkemah

 

Di area Danau Tambing ini terdapat area khusus yang disediakan oleh pengelola untuk berkemah. Tidak hanya para muda mudi yang berkemah tetapi juga mereka yang telah berkeluarga juga ada yang berkemah di sana. Tidak hanya berkemah sebagai keluarga kecil bahkan ada yang berkemah dengan keluarga besar. Seru banget! Saat malam juga diijinkan membuat api unggun tetapi harus dengan tanggung jawab. Ketika selesai berkemah ya sisa-sisa kayu atau sampah harus benar-benar bersih. Tak kalah penting, sebelum berkemah di Danau Tambing harus ijin pada pengelola, jumlah anggota yang berkemah, durasi berkemah, jumlah dan jenis kendaraan yang akan menempati lahan parkir, semua harus dilaporkan dengan jelas. Di area berkemah juga sudah disediakan lampu penerangan secukupnya, tetap syahdu kok.

 

Camping di Danau Tambing
Suasana berkemah di Danau Tambing

 

Kalau berkemah, bagaimana dengan mandi, cuci alat makan atau buang air di mana? Tenang! Don’t worry 😀 Di Kawasan Danau Tambing disediakan toilet dengan jumlah yang cukup tanpa harus antri panjang. Kamar mandi yang ada sangat bersih dan jauh dari aroma-aroma tak sedap khas kamar mandi. Urusan toilet, aman. Tak hanya itu, di kawasan ini juga sudah ada musola beserta tempat wudlu yang bersih dan nyaman bagi pengunjung muslim.

 

Tracking

 

Tracking di Danau Tambing

 

Setelah sempat ditutup karena pandemi, Kawasan Danau Tambing dibuka kembali tentu dengan protokol kesehatan yang ketat. Seingat saya, dibuka sekitar 23 Oktober 2021. Selain berkemah, kawasan ini saya juga bisa melakukan trekking bersama anak dan suami. Jalur tracking dibuat oleh pengelola kawasan Danau Tambing.

Salah satu jalur tracking yang telah disediakan oleh pengelola.

 

Jalur tracking ini mengelilingi Danau Tambing sembari bisa kita menikmati pemandangan alam yang benar-benar alami. Jalur tracking ini pun menurut saya juga masih termasuk jalur tracking alami atau ‘liar’. Benar-benar bisa untuk olahraga sekaligus cuci mata.

 

Berburu Foto

 

Alam yang indah tentu tak bisa dilewatkan tanpa mengabadikan momen kan ya? Selain berfoto dengan keluarga, teman, pasangan, atau siapa pun, di kawasan Danau Tambing ini juga bisa dimanfaatkan untuk hunting photo bahkan saat saya di sana, ada juga yang sedang memanfaatkan kunjungannya untuk membuat video pendek tentang Danau Tambing dan ada juga yang sedang membuat film pendek untuk tugas kuliah. Pun termasuk saya, momen di Danau Tambing saya abadikan di blogpost ini, hehehe..

 

 

Selain 3 kegiatan tadi, ada juga yang memancing dan juga berpiknik dengan menggelar tikar lalu menyiapkan kudapan. Aktifitas yang tak kalah membuat iri saat saya ke sana adalah ada salah satu pengunjung yang dengan santainya menghabiskan waktu di sana dengan membaca buku.

 

Yap, apa pun aktifitasnya semoga kita melewatinya dengan orang-orang tersayang. Kalau pun ke Danau Tambing sendirian ya nggak apa-apa lah ya 😀 Yang penting tetap ingat jaga kebersihan.

 

Sampai jumpa di Danau Tambing, Lore Lindu, Poso 

Tak lupa, cerita lain tentang Poso juga bisa dinikmati di sini ya teman-teman… ^^

Menikmati Danau Poso dari Torau Resort

 

Dulu, ketika saya masih duduk di sekolah dasar kelas 5 atau kelas 6, nama Danau Poso seolah sangat familiar. Di buku sekolah akan saya jumpai nama Danau Poso di bagian pengetahuan dasar atau pengetahuan alam. Lalu, saat saya duduk di bangku sekolah menengah pertama, nama Danau Poso kian mudah dijumpai, lebih-lebih di sekolah menengah pertama ini ada mata pelajaran Geografi. Apakah teman-teman juga menjumpainya di buku sekolah?

 

Semacam photobooth dengan latar Danau Poso
Semacam photo booth dengan latar Danau Poso

 

Saat itu, Danau Poso yang saya baca di buku pelajaran mengatakan bahwa danau ini terletak di Pulau Sulawesi, tepatnya di Propinsi Sulawesi Tengah. Saat itu bagi saya tentulah itu adalah sebuah tempat yang jauh untuk dijangkau bagi anak usia sekolah yang tinggal di Kota Ngawi, sebuah kota yang berbatasan dengan Propinsi Jawa Tengah. Di peta saja, menjangkau Pulau Sulawesi harus melewati Pulau Kalimantan yang sangat besar. Ketika itu Danau Poso merupakan nama tempat yang ‘wah’ untuk saya.

 

Berpuluh tahun berlalu hingga nama Danau Poso teralihkan dengan mimpi dan ambisi lain 😀 tapi bukan sepenuhnya melupakan juga sih. Hingga akhirnya, Januari 2021 adalah awal Sulawesi Tengah menjadi ‘tempat bermain’ bagi saya karena harus pindah tinggal di Kota Palu. Momen ini menjadi kesempatan bagi saya untuk bermain dan menikmati Sulawesi Tengah, termasuk Kota Poso. Finally, here we go, Poso. Perjalanan dari Kota Palu ke Kota Poso memakan waktu sekitar 6 hingga 7 jam. Itu baru sampai kotanya ya. Jika lanjut hingga Danau Poso maka estimasi perjalanan dari pusat kota adalah 1,5 jam hingga 2 jam. Perjalanan ditempuh jalur darat.

 

Kalau teman-teman sedang berada atau merencanakan traveling di Sulawesi tepatnya di Sulawesi Tengah, Danau Poso adalah tempat yang layak untuk dijadikan tujuan. Danau Poso merupakan danau terbesar ketiga di Indonesia setelah Danau Toba di Sumatra Utara dan Danau Singkarak di Sumatra Barat. Karena menjadi salah satu danau terbesar di Indonesia, danau ini menyuguhkan suasana yang berbeda dibandingkan danau-danau kecil lainnya. Vibe-nya seperti berada di pinggir pantai, padahal sebenarnya adalah danau. Danau Poso terkenal dengan pasirnya yang berwarna kuning keemasan. Gelombang air di danau ini juga mirip dengan gelombang air laut. Jika diperhatikan secara seksama, warna air di Danau Poso cukup unik. Di bagian pinggir danau, air berwarna hijau dan terdapat perbedaan dengan warna air di bagian tengah danau dimana air berwarna biru.

 

 

Berada di ketinggian 657 meter di atas permukaan laut, danau dengan luas seluas 32.000 Ha membentang luas dari utara ke selatan dan mempunyai kedalaman mencapai 510 meter. Jika berangkat dari Kota Poso, Danau ini berjarak 56 km dan dapat ditempuh kurang lebih selama 1,5 jam. Sedangkan dari Kota Palu, Danau Poso dapat dicapai setelah menempuh jarak sekitar 283 km dengan estimasi waktu perjalanan darat sekitar 8 jam.

 

Mengingat jaraknya yang lumayan juga dari Kota Palu, tentu pertanyaan berikutnya adalah dimana tempat menginap yang bagus? Ada banyak tempat penginapan di sekitar Danau Poso. Salah satu penginapan yang menarik untuk menikmati Danau Poso dari dekat adalah Torau Resort. Lokasi penginapan ini tepat berada di tepi Danau Poso. Sayangnya, hanya memiliki sedikit kamar, sekitar 6-7 kamar saja. Kamar yang terbatas, lokasi bagus, fasilitas lengkap, dan dekorasi kamar yang sangat indah, menjadikan Torau Resort sebagai salah satu tujuan utama ketika menginap di sekitar Danau Poso. Pemesanan kamar harus dilakukan jauh-jauh hari. Saya sendiri sering sekali kehabisan kamar, apalagi di musim liburan, harus gercep pokoknya.

 

Alasan Torau Resort Laris Manis

Model di foto tetap suami 😀 | Dari kolam renang seakan tanpa sekat dengan Danau Poso.

 

Kolam Renang Torau Resort

 

Memangnya apa yang bikin Torau Resort laris ya? Salah satunya adalah fasilitas yang lengkap. Selain ada kamar tempat menginap, di Torau Resort juga ada restoran dan kolam renang bagi pengunjung yang ingin berenang tapi takut berenang di danau yang lumayan dalam dan posisi kolam renang ini menghadap langsung ke Danau Poso. Ada juga wahana banana boat untuk pengunjung yang ingin basah-basahan di danau. Selain itu, spot-spot di Torau Resort menurut saya sangat instagramable. Bahkan, disediakan semacam photo booth di pinggir kolam renang.

 

 

Bagi saya, kamar-kamar di Torau Resort memiliki desain yang sangat unik, beraksen rumah kayu dan dibangun di atas danau. Sambil bersantai di depan kamar, anak-anak juga bisa diajak ngasih makan ikan-ikan yang berenang bebas di bawah kamar.

 

Kamar Torau Resort
Penampakan Kamar di Torau Resort

 

Dengan segala fasilitas yang ditawarkan, dari segi harga menurut saya termasuk cukup kompetitif ya.. 😀 Tarifnya di kisaran 600.000 rupiah saat weekend atau musim liburan dan 485.000 untuk weekday. Selain kamar, ada juga paket menginap di tenda ala camping di tepi danau dengan biaya pertenda 400.000 per malam. Sedangkan tiket masuk bagi yang hanya ingin berenang saja cukup membayar 15.000 per orang. Bagaimana menurut teman-teman, mahal kah atau murah? 😀 Mengingat penginapan yang sering sekali sold out nampaknya harga segitu cukup layak untuk dicoba bukan? 🙂 Oh iya, cerita tentang Kota Poso di kesempatan yang lain juga bisa dinikmati di sini 🙂

Sampai jumpa di tepi Danau Poso, teman-teman ^^