Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131
Deprecated: Function WP_Dependencies->add_data() was called with an argument that is deprecated since version 6.9.0! IE conditional comments are ignored by all supported browsers. in /home/cindiriy/domains/cindiriyanika.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131
Kali ini saya ingin berbagi pengalaman mengunjungi perpustakaan lagi di kota Suwon. Perpustakaan ini bernama Suwon Public Seongyeong Library (수원 선경도서관) dan dikelola oleh Pemerintah Kota Suwon.
Lokasi dan Akses
Perpustakaan ini berada di area Hwaseong Fortress, benteng jaman kerajaan yang menjadi bagian dari warisan budaya UNESCO. Seperti biasa untuk menuju kesini, gunakan saja Naver Map dan ketikkan nama perpustakaannya dan ikuti petunjuk di aplikasi tersebut. Karena lokasinya yang agak jauh dengan stasiun kereta, maka paling gampang kesini pakai bus atau taksi kalau agak sultan dikit.
Di sekeliling perpustakaan terdapat banyak café karena memang berada di lokasi wisata. Jadi kalau café sedang penuh atau sedang pengen lokasi belajar atau kerja yang agak sunyi, tapi sambil berwisata, maka perpustakaan ini patut dicoba.
Fasilitas dan Jam Buka
Karena lokasinya yang berada dalam komplek Hwaseong Fortress, tidak heran ketika baru masuk perpustakaan, di lantai satu kita langsung bisa melihat ruang ekhsibisi yang memajang pernak-pernik kuno jaman kerajaan. Di lobi lantai satu ini ditampilkan baju raja dan permaisuri beserta aksesorisnya (topi, ikat pinggang, sepatu, dll).
Perpustakaan ini terdiri dari tiga lantai. Lantai satu terdiri dari perpustakaan anak, auditorium, dan cyber library. Lantai dua berisi ruang baca dan kantor. Sedangkan lantai tiga terdiri dari ruang baca dan lounge. Uniknya di lantai tiga ini dipisah antara ruang baca laki-laki dan perempuan.
Tempat favorit saya adalah di lounge room. Di sini disediakan kursi sofa empuk yang biasanya digunakan pengunjung untuk beristirahat, bahkan sampi tertidur. Pengunjung bisa beristirahat di sofa dengan jendela yang langsung menghadap komplek Hwaseong Fortress.
Di ruangan ini juga terdapat vending machine yang berisi minuman kaleng dan coffee machine (bisa panas atau dingin). Kalau kalian merasa sumpek dan ingin baca-baca atau duduk di area terbuka, di halaman perpustakaan terdapat beberapa bangku dan gezebo yang nyaman.
Ruang baca di lantai tiga buka dari pukul 07:00 dan tutup pukul 23:00. Sedangkan ruang kerja dan akses pada koleksi buku di perpustakaan buka dari pukul 09:00 dan tutup pukul 22:00 saat weekday, kalau weekend tutup pukul 18:00.
Museum Tumurun atau juga dikenal dengan nama Tumurun Private Museum adalah salah satu museum yang berada di Kota Solo. Museum ini sangat layak masuk dalam daftar kunjung museum di Kota Solo. Saya akui, saya nggak paham-paham banget soal seni tapi jadi mood booster ketika berkunjung ke pameran atau museum seni. 🙂
Selayang Pandang Museum Tumurun
Hal pertama yang terlintas dalam benak saya tentang museum ini adalah namanya. Kok bisa namanya Tumurun? Ternyata oh ternyata, Museum Tumurun ini adalah museum milik pribadi salah satu pengusaha ternama sekaligus pendiri PT. Sri Rejeki Isman (Sritex) Kota Solo, HM Lukminto.
Museum ini diwujudkan oleh anak mendiang HM. Lukminto dalam rangka untuk mengenalkan karya seni milik keluarga besarnya. Terdapat banyak, bisa jadi sekitar 120an (saya nggak ngitung :-D) koleksi karya seni di dalam museum. Koleksi karya dan barang seni ini kemudian diwariskan secara turun temurun hingga akhirnya menjadi nama museum ini.
Museum Tumurun ini memiliki dua lantai. Museum Tumurun ini terdiri atas karya seni mulai dari lukisan, instalasi seni dan mobil antik. Di lantai pertama, saat baru saja memasuki museum, pandangan saya disambut dengan mobil antik yang cantik. Ada tiga mobil antic yang berada di lantai satu, yaitu Dodge tahun 1948 dan Mercedez Bens tahun 1972.
Di lantai satu, saya dan para pengunjung lain bisa melihat dan menikmati karya seni kontemporer seperti Tisna Sanjaya, Eddy Susanto, Hery Dono dan Rudi Mantofani. Sementara di lantai dua, kita bisa bertemu dengan karya seni karya old master yang melegenda seperti Affandi, Ahmad Sadali, Antonio Blanco, Walter Spies, Raden Saleh dan lainnya.
Lokasi Museum Tumurun
Museum pribadi ini terletak di Jalan Kebangkitan Nasional No. 2, Sriwedari, Kecamatan Laweyan, Kota Solo. Kalau saya gambarkan sih ya, ada di belakang Sami Luwes sebelum Pasar Kembang dan memang dekat dengan Sriwedari.
Tiket dan Cara Mendapatkannya
Agar bisa memiliki akses masuk ke Museum Tumurun, kita harus memiliki tiket. Harga tiket masuk sebesar Rp 25.000,00/orang untuk dewasa dan anak-anak. Cara mendapatkannya bisa dengan memesan di web Museum Tumurun (klik aja) atau bisa juga on the spot berdasarkan pengalaman saya sih bisa ya. Oh iya, tersedia tiket gratis juga lho, tentu saya harus war yaaa 😀
Jam Operasional
Museum Tumurun buka Hari Selasa hingga Hari Minggu. Khusus Hari Senin tutup. Untuk jam operasionalnya sedikit berbeda ya, yaitu Selasa hingga Kamis buka mulai pukul 13.00-15.00 WIB sedangkan Jumat hingga Minggu buka lebih pagi, mulai pukul 10.00-15.00 WIB.
Di lantai dua.
Hal-Hal yang Diperbolehkan dan Tidak Diperbolehkan
Di dalam museum, saya dan para pengunjung lain diperbolehkan untuk berfoto di dekat karya seni. Namun para pengunjung tidak diijinkan untuk menyentuhnya.
Di dalam museum para pengunjung hanya boleh masuk dengan membawa handphone atau kamera saja. Tas dan barang bawaan lainnya harus dititipkan ke bagian keamanan termasuk dompet.
Tidak diijinkan berbuat kegaduhan. Jadi masing-masing pengunjung bertanggung jawab dengan ketenangan di dalam museum.
Di Museum Tumurun disediakan fasilitas untuk para pengunjung terutama untuk kenyamanan dan kepuasan menikmati karya seni, yaitu di setiap lukisan atau karya seni disediakan barcode yang bisa dipindai. Di situ terdapat informasi lengkap yang bisa dibaca secara mandiri.
Museum Tumurun juga menyiapkan pemandu untuk menemani pengunjung berkeliling museum. Jadi jangan khawatir, kita tidak akan kebingungan apalagi kesepian 😀
Selain itu, tersedia area parkir yang cukup luas untuk kendaraan roda empat dan roda dua. Ada juga toilet yang bisa digunakan di luar bangunan museum. Ada hal yang tak kalah penting, menurut saya Museum Tumurun ini ramah untuk teman-teman disabilitas karena akses ke lantai dua tidak menggunakan anak tangga.
Gimana Teman-Teman? Tertarik ke Museum Tumurun? Yuklah gass aja, Museum Tumurun akan buka hingga tanggal 21 November 2023. ^^
Rumah Budaya Kratonan namanya. Tempatnya cukup tersembunyi dan sekilas tidak tampak seperti destinasi wisata sejarah yang ada di Kota Solo. Pemandangan dari luar seperti bangunan khas Jawa atau Joglo yang selalu terlihat menawan. Saya penasaran tentang Rumah Budaya Kratonan (RBK) dari Mas Arkha, owner Titilarassaat saya walking tour di Pasar Gede, Solo di Bulan Juli lalu. Apa yang membuat saya penasaran dengan RBK? Ada apa saja di sana? ^^
Taman bagian depan dan Laras Resto.
Galeri Sejarah Surakarta
Ruang pertama di Galeri Sejarah Surakarta, RBK.
Galeri Sejarah Surakarta memiliki beberapa ruang yang memberi edukasi sejarah dari yang kompleks menuju spesifik. Di ruang ini menampilkan sejarah perjalanan revolusi industry hingga tumbuhnya kolonialisme di Indonesia. Tentu saja, di galeri ini menampilkan sejarah Surakarta. Setiap ruang memiliki vibe yang berbeda, nggak monoton. Jadi nggak membosankan.
Ruang kedua.
Saya teringat, saat di ruang kedua yang menampilkan sejarah perjuangan di Surakarta, pengunjung tidak hanya membaca informasi-informasi yang tertera tetapi juga bisa menggunakan alat peraga yang tersedia.
Terdapat empat jendela seperti ini di ruang kedua.
Begitu juga di ruang ketiga. Ruang ini didesain sebagai ruang cermin, dikelilingi dengan cermin. Selain belajar sejarah khususnya Multatuli, di ruang ketiga ini bisa mirror selfie juga 😀 Selanjutnya masih ada dua ruang yang didesain berbeda dari ruang-ruang sebelumnya.
Ruang ketiga.
Nah, di ruang terakhir menampilkan kekayaan Kota Solo berupa batik dan kekayaan kuliner Solo dalam bentuk gambar. Menurut saya, ini adalah salah satu cara menyenangkan untuk belajar sejarah terutama untuk anak-anak.
Ruang keempat.
Ruang terakhir.
Perpustakaan
Ada perpustakaan juga lho di Rumah Budaya Kratonan dengan koleksi buku-buku yang beragam bahkan buku-buku anak pun tersedia. Perpustakaan di RBK ini didesain semi open space dan instragammable 😀 Mau baca buku atau kerja di perpustakaan RBK ini benar-benar nyaman. Untuk nugas mandiri atau kelompok juga oke banget!
Resto
Resto di Rumah Budaya Kratonan ini bernama Laras. Namanya cantik ya? Kalau kata saya sih njawani, menggambarkan perempuan Jawa yang lembut gitu 😀 Laras Resto menyediakan berbagai pilihan menu makanan mulai dari main course, snack hingga menu penutup ada.
Saat saya di Rumah Budaya Kratonan tepat saat jam makan siang. Saya memesan nasi goreng yang nggak pedas untuk Bilgi dan kroket untuk saya. Nasi gorengnya enak, gurihnya pas dan tipe nasi goreng khas Solo gitu. Untuk porsinya menurut saya ini adalah nasi goreng porsi jumbo karena akhirnya harus kami habiskan berdua 😀 Untuk kroketnya enaaaaaakkkkk, bagian dalam teksturnya lembut dan bagian luarnya renyah. Rasa gurihnya pas, maksud saya kalau untuk camilan gurihnya pas, bukan yang kebangetan gitu.
Untuk minuman, kami memesan es teh gula sedikit dan es jeruk tanpa gula. Harga minuman dan makanan di Laras Resto ini masih terjangkau. Ya karena yang makan dan minum di resto ini menjangkau semua kalangan termasuk pelajar. Jadi soal harga masih bersahabat. ^^
Pendopo
Rumah Budaya Kratonan juga memiliki pendopo yang cukup luas. Biasanya pendopo ini disewakan untuk acara-acara tertentu seperti pernikahan atau gathering. Adakalanya digunakan untuk kegiatan budaya Rumah Budaya Kratonan seperti pelatihan gamelan, tari dan belajar menulis aksara Jawa. Semua kegiatan tersebut dibuka untuk umum.
Lokasi dan Jam Operasional
Rumah Budaya Kratonan berada di Jalan Manduro No. 6, Kratonan, Kecamatan Serengan, Kota Solo. Akses menuju RBK ini sangat mudah termasuk juga jika menggunakan transportasi online.
Untuk jam operasional kafe di Rumah Budaya Kratonan mulai dari pukul 08.00 hingga 20.00 setiap harinya dan Galeri Sejarah Surakarta mulai buka pukul 09.00 hingga 15.00 dibagi menjadi empat sesi di Selasa hingga Sabtu.
Rincian sesinya adalah sesi I pukul 09.00, sesi II pukul 11.00, sesi III pukul 13.00, dan sesi IV pukul 15.00. Khusus Hari Minggu ada dua sesi pukul 11.00 dan 13.00. Saat saya ke sana di Hari Minggu, ada sesi III pukul 15.00 karena yang akan masuk Galeri Sejarah Surakarta ini rombongan atau group.
Tiket
Tiket masuk ke area Rumah Budaya Kratonan ini gratis kecuali galeri. Untuk tiket masuk galeri sangat terjangkau yaitu Rp 25.000,00 untuk dewasa dan Rp 10.000,00 untuk tiket usia pelajar.
Fasilitas
Rumah Budaya Kratonan ini menurut saya sangat nyaman untuk berakhir pekan, chatch up dengan teman-teman atau berkumpul dengan keluarga. Fasilitas yang disediakan juga mendukung mulai dari parkir yang cukup untuk kendaraan roda empat dan roda dua, terdapat musola untuk salat, toilet yang bersih dan terpisah antara laki-laki dan perempuan. Fasilitas terpenting adalah ada tour guide selama berkeliling galeri. Selain tour guide juga disediakan ‘tour guide’ dalam bentuk audio.
Bagi saya berkunjung ke Rumah Budaya Kratonan ini sangatlah menyenangkan. Termasuk juga untuk Bilgi. Kami sama-sama mendapat pengalaman baru yang tak terlupakan. Jika ada kesempatan lagi main ke Solo, akan mampir lagi ke RBK. Ada yang mau ketemuan di sana? ^^
Monumen Pers Nasional merupakan bangunan monumen sekaligus museum khusus pers nasional Indonesia. Bagi saya, Monumen Pers Nasional ini sangat familiar, mengingat dulu jaman saya masih SMA di Solo sering sekali melewatinya ketika hendak ke Gramedia, Sami Luwes atau Pasar Klewer. Meski begitu, baru Rabu (18/10) lalu adalah kali pertama saya masuk ke dalam gedung Monumen Pers Nasional.
Alangkah senangnya saya ketika kunjungan saya bersama Bilgi di luar ekspektasi. Saya pikir hanya aka nada museum tentang pers Indonesia. Ternyata jauh menyenangkan saat tiba dan mendapat penjelasan dari petugas di lobi. Ada apa saja di Monumen Pers Nasional Solo?
Museum Pers Nasional
Museum ini merupakan museum khusus pers nasional Indonesia mulai dari awal lahirnya, perjalanannya hingga saat ini. Perkembangan pers khusus di wilayah Solo pun juga dijelaskan secara tuntas di museum ini melalui infografis di setiap ruang. Museum yang berada di Gedung utama dekat lobi menyajikan banyak pengetahuan tentang pers nasional disertai pameran koleksi buku-buku yang tertata rapi.
Ruang Pameran Pers Nasional
Ruang ini berada di gedung kedua, samping gedung utama. Ruang pameran ini berisi koleksi meliputi teknologi komunikasi dan teknologi reportase seperti penerbangan, mesin ketik, pemancar, telepon, radio, kamera dan kentongan besar.
Perpustakaan
Saya masuk ruang perpustakaan umum ini hanya sebentar karena saya bersama anak saya usia 6 tahun. Demi menjaga ketenangan dan kenyamanan sih 😀
Di gedung kedua tepatnya lantai dua terdapat dua perpustakaan yaitu perpustakaan umum dan perpustakaan (khusus) anak-anak dengan ruang terpisah. Perpustakaan umum di Monumen Pers Nasional ini sangat tenang, tersedia banyak koleksi buku, meja kursi beserta colokan, wifi, dan AC yang dingin yang benar-benar mendukung untuk belajar atau bekerja jarak jauh di perpustakaan ini.
Perpustakaan (khusus) anak berada tepat di depan perpustakaan umum. Perpustakaan anak di sini menyediakan berbagai macam buku untuk anak-anak yang mayoritas adalah buku-buku ensiklopedia. Ada juga perosotan, mainan edukatif dan TV sebagai media belajar untuk anak. Saat saya ke sana dan TV dinyalakan, perpustakaan ini memutar lagu-lagu anak. Bilgi betah di ruang perpustakaan anak ini. 😀
Ruang Baca
Ruang baca di Monumen Pers Nasional Solo ini mengingatkan saya pada sebuah drama detektif yang sedang mencari informasi bertahun silam melalui surat kabar 😀 . Nah, bayangan saya, ini adalah ruang baca semacam perpustakaan. Ternyata ini adalah ruang baca untuk membaca surat kabar dalam bentuk cetak dan digital. Terdapat beberapa komputer untuk mengakses koran dalam bentuk digital atau membaca surat kabar cetak yang jumlahnya sangat banyak dan tertata di rak.
Lokasi dan Jam Operasional
Monumen Pers Nasional berada di Jalan Gajahmada No. 59, Timuran, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo. Lokasinya sederet sangat dekat dengan RS Muhammadiyah Solo dan Tahu Kupat ‘Sido Mampir’ Gajahmada.
Jam operasional Monumen Pers Nasional mulai pukul 09.00 hingga 15.00 WIB dan buka setiap hari. Iya, Hari Minggu tetap buka. Kalau saya tinggal di Solo beneran bakal betah dan jadi tempat favorit sih ini. 😀
Fasilitas di Monumen Pers Nasional
Lobi
Sebuah tempat yang menyenangkan tentu saja harus didukung dengan fasilitas yang nyaman juga ya. Begitu juga di Monumen Pers Nasional ini juga menyediakan kenyamanan bagi pengunjung. Di antara fasilitas yang ada yaitu area parkir untuk kendaraan roda dua dan roda empat, ada toilet yang bersih, musola yang nyaman digunakan untuk ibadah, akses wifi yang cepat, tidak ada tiket masuk (pengunjung hanya mengisi buku tamu di komputer yang tersedia di lobi) dan juga ada tour guide yang menemani berkeliling ke museum.
Penanda arah menuju ruang perpustakaan dan ruang baca.
Main kali ini sungguh menyenangkan, berkunjung ke Monumen Pers Nasional tidak hanya menambah wawasan saya tentang perkembangan pers tetapi juga tahu bahwa di sana tersedia perpustakaan umum, perpustakaan anak dan ruang baca. Benar-benar mengasyikkan. Jika Teman-Teman sedang jalan-jalan ke Solo, wajib singgah di Monumen Pers Nasional Solo. ^^
Tanaku Kopi adalah salah satu kedai kopi yang saya temukan di daerah Yosodipuro, Ketelan, Solo saat berjalan kaki usai makan siang di daerah sekitar Hotel Solia Yosodipuro. Panasnya Kota Solo membuat saya akhirnya memutuskan untuk singgah sejenak di Tanaku Kopi.
Ketika saya berada di depan kedai kopi ini, hal pertama yang membuat saya menyukainya adalah kedai kopi ini terasa homey. Kedai kopi ini mengusung konsep rumah kuno sebagai eksteriornya. Suasana vintage pun juga terasa di Tanaku Kopi dan juga instagrammable.
Lokasi dan Jam Operasional
Tanaku Kopi berada di Jalan Yosodipuro No. 11, Ketelan, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo. Kedai ini tepat berada sederet dengan Solia Hotel Yosodipuro, Solo. Ya, kurang lebih 200 meter, tepat di sebrang Parahita Lab. Kedai ini mulai buka pada pukul 09.00 hingga 24.00 WIB dan buka setiap hari. Yap, masih termasuk bisa untuk tujuan ngopi pagi ya Teman-Teman.
Menu Tanaku Kopi
Tanaku Kopi menyajikan berbagai minuman dengan coffee based, milk based dan non-coffee. Termasuk juga pengunjung bisa pesan sesuai permintaan. Misal seperti yang saya lakukan kemarin. Saat itu, saya memesan Coffee Oat Latte Sugar Free dan teh kampung tanpa gula. Coffee latte yang saya pesan menggunakan susu oat sebagai pengganti dairy milk yang biasa digunakan dalam coffee latte.
Lupa kentang goreng nggak terabadikan 🙁
Teh Kampung di Tanaku Kopi juga enak, saya nyebutnya ‘Solo banget’. Kalau Teman-Teman pernah dengar istilah wasgitel alias wangi sepet legi kentel, nah, Teh Kampung Tanaku Kopi seperti itu serta penyajiannya menggunakan gelas enamel jadul. Selain minuman, saya juga pesan kentang goreng yang saya french fries potong kecil ternyata potongannya besar seperti kentang wedges dan renyah bagian luar empuk di bagian dalamnya.
Fasilitas Tanaku Kopi
Musola
Saat saya menunggu pesanan siap, waktu menunjukkan waktu salat Asar dan memang terdengar adzan. Saya bertanya kepada salah satu staf di sana di mana masjid atau musola terdekat dari Tanaku Kopi. Dua staf yang berada di depan saya langsung memberitahu bahwa di Tanaku disediakan tempat untuk salat. Tempatnya kecil tetapi nyaman untuk salat dan saya bersyukur bisa salat dengan tenang tanpa harus keluar dari kedai kopi.
Toilet
Kedai kopi ini juga menyediakan toilet yang bersih dan menghibur. Iya, menghibur, bahkan saya bisa tertawa saat di toilet karena himbauan yang tertulis di dinding toilet. Sebuah himbauan atau pemberitahuan dengan pendekatan yang kekinian, nggak kaku gitu. 😀
Parkir
Di Tanaku Kopi tersedia parkir untuk kendaraan roda dua dan roda empat. Untuk mobil saya lihat terbatas ya tapi di sana ada juru parkir yang akan membantu setiap pengunjung yang datang. Jadi jangan khawatir soal parkir.
Area Outdoor dan Indoor
Pintu paling depan adalah area indoor untuk smoking area dan pintu kedua itu adalah ruang utama, indoor, no smoking area.
Tanaku Kopi menyediakan area outdoor dan indoor. Area outdoor berada di halaman depan sekaligus smoking area. Kalau sore menuju senja atau malam pasti nyaman di area outdoor ini. Area indoor dibagi menjadi dua area, pertama smoking area. Kedua, no smoking area yang dibagi menjadi tiga ruang, yaitu 1 ruang utama dengan jajaran meja kursi dan dua ruang lainnya terdapat meja kursi dengan konsep lesehan, gimana ya nyebutnya 😀
Secara keseluruhan, saya senang bisa singgah di Tanaku Kopi dan menikmati menu spesialnya, coffee oat latte dan camilannya, kentang goreng wedges. Pertama kali mampir dan ingin singgah lagi karena saya ingin mencicipi menu-menu Tanaku Kopi yang lain serta sekaligus work from café.
Sebenarnya, bukan Windmill Beach nama pantai ini tapi lokasi tepatnya di Tandohang Port (Naver Map) atau Tando Port (google maps) (탄도항). Untuk ukuran sebuah pantai, lokasi ini biasa saja. Jauh lebih banyak pantai-pantai di Indonesia yang lebih bagus. Tapi ada tiga buah objek berupa windmill yang membuat view dari pantai ini jadi lebih ikonik. Apalagi pantai ini berada di kawasan sebelah barat, sehingga matahari terbenam di ujung cakrawala bisa kita nikmati. Pantai, windmill dan senja. Kombinasi yang menyenangkan untuk dinikmati.
Lokasi dan Akses
Pantai ini masih berada di kawasan Ansan, tapi agak jauh di pinggir. Secara penampakan di peta, lokasinya hampir terpisah dari daratan utama Korean Peninsula, hanya menyisakan sedikit daratan yang menghubungkannya. Di peta Teman-Teman bisa searchTando/Tandohang Port (탄도항) dan ikuti saja transportasi yang direkomendasikan di aplikasi Naver Map.
Walaupun masih berada di kawasan Ansan-si, cukup effort juga untuk mengunjungi tempat ini. Dari Kota Suwon kira-kira 3 jam waktu yang dibutuhkan. Bisa menggunakan bus atau kombinasi kereta dan bus. Saya dan suami lebih suka naik kereta, turun di Stasiun Oido dan nyambung dengan bus nomor 123, sampai deh. Bus 123 memang cukup lama intervalnya, kira-kira 30 menit waktu rata-rata untuk menunggu bus-nya lewat.
Fasilitas dan Daya Tarik
Sebenarnya daya tarik di pantai ini hanya satu: pantai dengan view windmill di kejauhan. Tapi entah kenapa banyak sekali pengunjungnya, terutama menjelang sunset. Apalagi di akhir pekan atau hari libur. Pemandangannya memang sebagus itu sih.
Kalau kalian mau, sebenarnya kita bisa mendekat sampai di bawah windmill ini. Tapi lihat-lihat situasi saja, karena kadang-kadang ketika laut sedang pasang jalanan yang menghubungkan ke arah windmill tertutup air laut. Makanya di pinggir pantai banyak yang menjual atau menyewakan semacam sepatu boot panjang sampai lutut dari karet untuk mereka yang tetap ingin menyeberang ketika pasang. Kalau sedang surut, masih agak becek sih, tapi cukup aman dengan sepatu biasa aja.
Di pinggir pantai dibangun undakan-undakan semacam tangga yang memanjang, dan bisa digunakan pengunjung yang nggak pengen becek-becekan ke tengah laut, untuk sekadar duduk sambil menikmati matahari terbenam. Pengunjungnya cukup merata, ada pasangan muda, keluarga kecil dengan anak-anaknya dan sekelompok ibu-ibu/bapak-bapak. Ada juga beberapa pengunjung yang datang sendirian sambil bawa kamera untuk ngembil beberapa foto bagus di sini.
Di sepanjang pantai, ada beberapa café yang tentu saja “menu” utamanya adalah view pantai dengan windmill. Selain itu ada beberapa convenience store khas Korea, kayak CU, GS25, atau Seven Eleven. Tempatnya lumayan sepi dan agak pelosok di pedesaan sih ya.
Recommended?
Kalau ditanya apakah worth it tempat ini dikunjungi mengingat jarak tempuhnya yang lumayan dan lokasinya agak terpencil tanpa banyak fasilitas pendukung? Kalau menurut saya cukup worth it. Saya cukup puas menikmati pemandangan sunset sambil duduk-duduk santai di pinggir pantai.
Kalau kalian menginginkan lebih, di dekat pantai ini ada sebuah pulau namanya Jebu-ri(제부리). Saya belum banyak mengeksplore pulau ini, tapi yang bikin seru adalah kalian bisa menuju pulau ini dengan naik kereta gantung. Kebayang kan asiknya 😀 Jarak pulaunya lumayan jauh lho, jadi kalian bisa berlama-lama naik kereta gantungnya dengan view windmill & sunset di kejauhan. Fix, next time kayaknya aku harus coba ke pulau ini. Minimal bisa naik kereta gantungnya.